Ceramah Sebatang Rokok.
Sekarang masyarakat golongan mana yang belum membicarakan masalah rokok? Sepertinya sudah semua, tidak terkecuali temanku satu kelas. Hari ini temanya rokok, full. Ada yang pro, kontra, ada yang di tengah (plin-plan), ada yang gak ikut campur dan ada yang jadi orang bijaknya. Ada yang bilang merokok itu tidak baik dilarang, buruk, mengurangi umur yang merokok dan yang dekat orang merokok, ada yang bilang makruh atau haram (saya lupa), tapi ada juga yang bilang merokok itu baik, alasannya juga bermacam macam. Ada yang bilang biar keren, bahkan sampai ada yang bilang seperti ini ,”lanang gak ngerokok yo uduk lanang” saya jadi ingat, pernah ada orang yang bilang begini sama saya “ gak ngerokok + gak ngopi = nginang” namanya Eyang Abiyoso, salah satu guru saya.
Mereka terus saja ngoceh panjang lebar sambil adu statemen untuk membenarkan pendapat mereka masing-masing. Niatnya saya, saya nggak mau ikut pada pembicaraan mereka, karena menurut saya, pembicaraan itu tidak penting, gak mutu. Gimana mau dibilang bermutu, coba pikir, mau hasilnya seperti apapun, siapapun yang bisa keluar sebagai pemenang, hasilnya tetep sama saja, yang merokok tetap merokok, yang anti rokok ya tetep anti rokok, ya walaupun kadang-kadang juga bisa ikut-ikutan merokok.
Tapi apa yang terjadi, akhirnya niat hanya menjadi sebatas niat, tibo-tibo aku di tekok’I, hehe tiba-tiba aku ditanya, kan aku kaget, lawong niatnya aku nggak mau ikut campur, aku kan orangnya cuek. Tapi apa boleh buat, pertanyaan sudah terlamjur melayang dan memasuki alam pikiran saya, cie cie, sok jadi penyair. Begini pertanyaanya:
“Kalau kamu kenapa merokok, Ji?”
Ya saya jawab, “Saya pengen bantu para petani, buruh, sopir truk, pedagang, orang kaya, pelajar dan Negara sekaligus.”
“Kok bisa?”
“Kamu tau proses pembuatan rokok? Awalnya dari kebun, petani nanam tembakau di ladang, saat menanam petani butuh pupuk dari toko, yang punya toko siapa? Pedagang, terus panen, kemana tembakau dibawa? Perusahaan, Djarum salah satunya, pakek apa bawanya? Pakai truk, siapa yang ngolah tembakau itu kok bisa jadi rokok? Buruh, pekerja. Dibayar gak buruh itu? siapa yang bayar? Yang punya perusahaan siapa yang punya perusahaan? Orang kaya. Dapet duit gak orang kaya?, buruh dapet duit gak? Petani dapet duit gak? Pedagang dapet duit gak, mereka semua seneng gak?
Sek masih ada lagi, kalau sudah jadi rokok pasti di distribusikan, kemana? Pakek apa? Ke toko, ke warung, pakek mobil, mungkin juga kereta atau mungkin juga odong-odong, tapi kayaknya gak mungkin. Terus udah nyampek warung saya beli rokoknya. Siapa yang senang? yang punya warung kan? Terus kalau rentetan kejadian itu berjalan lancar, siapa yang seneng lagi? Mahasiswa, kenapa kok mahasiswa? Pernah denger beasiswa Djarum? Itu salah satunya, walaupun ada orang yang dapat beasiswa rokok tapi dia bilang rokok itu haram. Ya saya tau, soalnya di kampus kita ini ada, saya kenal baik sama orangnya. Terus siapa lagi yang seneng, ?? Negara, pegawai DPR, pegawai pajak, kok bisa gitu? Ada berapa pabrik rokok di Indonesia? Kira-kira berapa pajak yang mereka bayar sama pemerintah setiap tahun? Jadi kan bisa di korupsi bareng-bareng.
Jadi, siapa yang senang? Semua senang. Coba bayangkan kalau gak ada orang yang beli rokok, rokok gak laku, gimana nasib petani tembakau, gimana nasib orang Madura? Gimana nasip ribuan buruh di pabrik rokok? Gimana nasib sopir-sopir truk yang biasanya ngangkut rokok dan tembakau? Gimana nasib warung-warung, toko yang jualan rokok? Gimana nasib mahasiswa ? dan gimana nasib Negara kita ini? ayo jawab, jangan diem tok.
Kalau dihitung-hitung ya, yang rugi itu ya saya sama orang tua saya, kenapa? saya beli rokok pakek uang pribadi saya yang saya dapat dari orang tua saya sendiri sampai uang biaya hidup saya habis, terus kamu bilang tadi rokok tidak baik untuk kesehatan, kesehatan siapa? Saya sendiri kan, yang merokok kan.
Kalau memang benar perokok pasif lebih banyak mendapat penyakit dibanding perokok aktif, kenapa gak semua orang jadi perokok aktif, terus bandingkan sendiri bagaimana rasanya. Balik lagi siapa yang rugi? Saya, yang beli rokok, yang merokok. Tapi apa salahnya sakit, sengsara, menderita, sakit kalau ada niat yang baik, kalau imbasnya lebih besar daripada sakitnya. Saya ini orang miskin, kalau mau sedekah ya uang saya kurang, makanya saya sedekah dengan cara lain, ya dengan rokok tadi. Apa tidak boleh orang miskin seperti saya berbuat sesuatu untuk orang banyak? Ayo jawab, kenapa diam semua?”
“Penjalasanmu mbulet cok..!!! koyok entutku. Orang ditanya malah ceramah, kalau mau ceramah di masjid sana.”
“Raimu..!!!”
Sekarang masyarakat golongan mana yang belum membicarakan masalah rokok? Sepertinya sudah semua, tidak terkecuali temanku satu kelas. Hari ini temanya rokok, full. Ada yang pro, kontra, ada yang di tengah (plin-plan), ada yang gak ikut campur dan ada yang jadi orang bijaknya. Ada yang bilang merokok itu tidak baik dilarang, buruk, mengurangi umur yang merokok dan yang dekat orang merokok, ada yang bilang makruh atau haram (saya lupa), tapi ada juga yang bilang merokok itu baik, alasannya juga bermacam macam. Ada yang bilang biar keren, bahkan sampai ada yang bilang seperti ini ,”lanang gak ngerokok yo uduk lanang” saya jadi ingat, pernah ada orang yang bilang begini sama saya “ gak ngerokok + gak ngopi = nginang” namanya Eyang Abiyoso, salah satu guru saya.
Mereka terus saja ngoceh panjang lebar sambil adu statemen untuk membenarkan pendapat mereka masing-masing. Niatnya saya, saya nggak mau ikut pada pembicaraan mereka, karena menurut saya, pembicaraan itu tidak penting, gak mutu. Gimana mau dibilang bermutu, coba pikir, mau hasilnya seperti apapun, siapapun yang bisa keluar sebagai pemenang, hasilnya tetep sama saja, yang merokok tetap merokok, yang anti rokok ya tetep anti rokok, ya walaupun kadang-kadang juga bisa ikut-ikutan merokok.
Tapi apa yang terjadi, akhirnya niat hanya menjadi sebatas niat, tibo-tibo aku di tekok’I, hehe tiba-tiba aku ditanya, kan aku kaget, lawong niatnya aku nggak mau ikut campur, aku kan orangnya cuek. Tapi apa boleh buat, pertanyaan sudah terlamjur melayang dan memasuki alam pikiran saya, cie cie, sok jadi penyair. Begini pertanyaanya:
“Kalau kamu kenapa merokok, Ji?”
Ya saya jawab, “Saya pengen bantu para petani, buruh, sopir truk, pedagang, orang kaya, pelajar dan Negara sekaligus.”
“Kok bisa?”
“Kamu tau proses pembuatan rokok? Awalnya dari kebun, petani nanam tembakau di ladang, saat menanam petani butuh pupuk dari toko, yang punya toko siapa? Pedagang, terus panen, kemana tembakau dibawa? Perusahaan, Djarum salah satunya, pakek apa bawanya? Pakai truk, siapa yang ngolah tembakau itu kok bisa jadi rokok? Buruh, pekerja. Dibayar gak buruh itu? siapa yang bayar? Yang punya perusahaan siapa yang punya perusahaan? Orang kaya. Dapet duit gak orang kaya?, buruh dapet duit gak? Petani dapet duit gak? Pedagang dapet duit gak, mereka semua seneng gak?
Sek masih ada lagi, kalau sudah jadi rokok pasti di distribusikan, kemana? Pakek apa? Ke toko, ke warung, pakek mobil, mungkin juga kereta atau mungkin juga odong-odong, tapi kayaknya gak mungkin. Terus udah nyampek warung saya beli rokoknya. Siapa yang senang? yang punya warung kan? Terus kalau rentetan kejadian itu berjalan lancar, siapa yang seneng lagi? Mahasiswa, kenapa kok mahasiswa? Pernah denger beasiswa Djarum? Itu salah satunya, walaupun ada orang yang dapat beasiswa rokok tapi dia bilang rokok itu haram. Ya saya tau, soalnya di kampus kita ini ada, saya kenal baik sama orangnya. Terus siapa lagi yang seneng, ?? Negara, pegawai DPR, pegawai pajak, kok bisa gitu? Ada berapa pabrik rokok di Indonesia? Kira-kira berapa pajak yang mereka bayar sama pemerintah setiap tahun? Jadi kan bisa di korupsi bareng-bareng.
Jadi, siapa yang senang? Semua senang. Coba bayangkan kalau gak ada orang yang beli rokok, rokok gak laku, gimana nasib petani tembakau, gimana nasib orang Madura? Gimana nasip ribuan buruh di pabrik rokok? Gimana nasib sopir-sopir truk yang biasanya ngangkut rokok dan tembakau? Gimana nasib warung-warung, toko yang jualan rokok? Gimana nasib mahasiswa ? dan gimana nasib Negara kita ini? ayo jawab, jangan diem tok.
Kalau dihitung-hitung ya, yang rugi itu ya saya sama orang tua saya, kenapa? saya beli rokok pakek uang pribadi saya yang saya dapat dari orang tua saya sendiri sampai uang biaya hidup saya habis, terus kamu bilang tadi rokok tidak baik untuk kesehatan, kesehatan siapa? Saya sendiri kan, yang merokok kan.
Kalau memang benar perokok pasif lebih banyak mendapat penyakit dibanding perokok aktif, kenapa gak semua orang jadi perokok aktif, terus bandingkan sendiri bagaimana rasanya. Balik lagi siapa yang rugi? Saya, yang beli rokok, yang merokok. Tapi apa salahnya sakit, sengsara, menderita, sakit kalau ada niat yang baik, kalau imbasnya lebih besar daripada sakitnya. Saya ini orang miskin, kalau mau sedekah ya uang saya kurang, makanya saya sedekah dengan cara lain, ya dengan rokok tadi. Apa tidak boleh orang miskin seperti saya berbuat sesuatu untuk orang banyak? Ayo jawab, kenapa diam semua?”
“Penjalasanmu mbulet cok..!!! koyok entutku. Orang ditanya malah ceramah, kalau mau ceramah di masjid sana.”
“Raimu..!!!”
besok kamu makan sehari cabe 1 kg ya cookk...
BalasHapusitu juga sangat berguna untuk mensejahterakan para petani cabe.
kalau soal rokok itu gandeng rentengnya sama saja menjadi budak pemodal asing.
coba pikir, produsen rokok besar mana yang bukan milik asing lagi.
kalau niatnya bener - bener mensejahterakan petani belilah rokok produk lokal, itu kan jelas - jelas milik anak negeri 100%.
sekedar info, sampurna baru - baru ini telah merumahkan 16000 pegawainya, dan mereka semua ternyata bisa hidup mandiri setelah dibekali wiraswasta tanpa bergantung pada rokok lagi.
petani tembakau mana yang sejahtera dan sukses coba? yang kaya itu bukan petaninya tetapi pemilik tanah untuk tanaman tembakaunya. para petaninya tetap menjadi buruh.
cokk..cabe iku larang, aku gak kuat tuku cabe 1 kg/hr. kalau aku boleh tanya, kenapa kok sampai bisa 16000 pegainya di rumahkan? bangkrut cok, ngopo kok bangkrut, gak laku. siapa yang bilang sama kamu kalau 16000 orang itu seluruhnya bisa? kamu buktikan sendiri atau cuma katanya? . kalau petani tambakau yang tembakaunya laku saja masih susah, coba kamu tanya sana sama petani tembakau gimana perasaanya kalau tembakaunya gak laku.
BalasHapushttp://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/05/16/2239079/Tutup.Dua.Pabrik.PT.HM.Sampoerna.PHK.4.900.Karyawan
BalasHapusrevisi 4.900 orang.
tembakau produk rokok mana?
ini lho fakta bahwa tidak begitu banyak jumlah petani tembakau kita, buktinya semakin banyak impor tembakau kita, dan jika katamu cabe mahal bisa dikonvensi para petani tembakau untuk menanam cabe.
http://www.neraca.co.id/article/41898/Impor-Tembakau-Cenderung-Terus-Meningkat
trus kamu berharap apa dari data-datamu yang banyak itu? bahkan datamu yang banyak itu belum cukup untuk membuktikan semua hal yang kamu sebutkan di komen mu yang pertama cookk
BalasHapus