Jumat, 30 Mei 2014

Jilbab oh jilbab

Jilbab oh jilbab

Hari ini saya ingin menjadi orang yang sok kritis, sok tau, sok alim dan saya ingin mengajak Anda semua untuk berfikir, flashback, meraba dan membayangkan hal-hal lain yang kira-kira perlu untuk dilakukan seputar tulisan ini nanti.`

 Sekarang ini nilai-nilai yang berlaku sudah tidak jelas, terbalik, tertukar bahkan terabaikan, termasuk juga nilai-nilai agama. Sebagai contoh, yang paling simpel, yang hampir setiap hari saya temui, permasalahan jilbab. Setahu saya, jilbab itu dipakai untuk menutupi aurat bagi seorang muslimah, ya muslimah. Itu dulu, tapi sekarang jilbab tidak lebih dari sekedar fashion, bahkan yang lebih parah, saya pernah bertanya kepada seorang wanita yang selalu memakai jilbab saat di kampus.

Apa alasan dia memakai jilbab? Dan jawabannya membuat saya, orang se-brengsek saya tertegun, kaget, walaupun saya coba tutupi. Dia menjawab, “Hanya untuk penutup kalau saya keluar kan panas kalau gak mekek jilbab, kadang-kadang kan juga dingin, jadi jilbab sangat berguna.”

Dalam pikiran saya berkata “berguna dengkulmu melocot..?!” saya lanjutkan bertanya, “kenapa kamu gak makek topi atau payung saja?”

 “kalau topi gak biasa, kalau payung susah bawanya, jadi ya tetep jilbab pilihan terbaik, lagi pula saya dimarahi sama orang tua saya kalau gak makek jilbab.”

 “jadi kalau gak dimarahi, kamu gak makek jilbab?”

 “ mungkin nggak, tapi mungkin juga iya”

Saya ini orang brengsek, munafik, bajingan, tapi saya masih merasa prihatin dengan hal yang semacam ini. bagaimana seorang dengan gampangnya membelokkan sesuatu yang menurut saya masih sakral, membalik nilai-nilai agama. Yang lebih membuat miris lagi, kata-kata itu keluar dari mulut seorang wanita yang pernah menimba ilmu di pondok pesantren selama tiga tahun lamanya, ditambah lagi dia hidup di lingkungan orang Madura yang terkenal dengan ketaatanya terhadap agama. Mun cak ini kejadianyo, cak mano laju?

Memang iya, setiap orang berhak memilih jalan hidupnya masing-masing, tapi kalau sudah seeperti ini saya rasa sah apabila saya megkritik. Karena ini sudah bukan hanya urusan pribadi, tapi nilai-nilai agama. Lalu yang salah siapa? Pelakunya? Pendidikanya? Orang tuanya? Lingkunganya? atau kita akan tetap menyalahkan setan?

Oke saya mengalah, yang salah adalah saya. Saya salah Karena telah mencapuri sesuatu yang jauh dari jangkauan saya. Iya ya, memangnya saya siapa? Ustad bukan, santri juga bukan, terus kenapa saya mikirin masalah kayak gini, cuma bikin pusing. Enak ngopi karo ngrokok neng warung wesss….

Ya sudah, lupakan saja semua isi tulisan saya diatas tadi, ,anggap saja cuma tulisan orang gila.

3 komentar:

  1. pantesan produk pesantren madura sih.
    coba besuk disuruh mondok ke Trenggalek, bakalan kapok dia.
    mau pamer siapa, anjing hutan?


    heheheheh

    BalasHapus
  2. untuk informasi, perempuan yang aku tanya itu tidak mondok di madura, tetapi di jawa.

    BalasHapus
  3. jadi pengen tau siapa perempuan itu... satu prodi dengan kita kan ji?

    BalasHapus