Sabtu, 15 Maret 2014

Orang-Orang Terasing.

Malam yang asing ini seakan mengamini perasaan rinduku padamu. Semakin lama kurasa semakin asing aku di tanah garam ini. Mengapa tanah ini terasa asing meskipun ia sangat ramah padaku. Apakah aku salah jika merindukan mereka? Disini seakan matahari berbeda dari matahari yang biasa aku lihat dan aku ajak bercanda setiap hari ketika aku senang, aku ajak menangis saat aku bersedih, dan matahari yang tak pernah mau aku ajak turun ke bumi untuk duduk menemani ku. 

Sekarang pun ini bukan masalah, karena sebenarnya aku selalu merasa tidak pernah ada di tempatku yang seharusnya. Entah mengapa, bahkan langit yang menyertai hidupku terasa asing bagiku. Terkadang aku berfikir, apakah ini karena aku yang mengasingkan diri dari kenyataan yang di buat langit dan bumi, atau karena memang langit dan bumi menganggapku sebagai orang asing yang tidak pantas untuk dikenang dan dikenal. 

Suara yang meronta dari rongga dadaku semakin terasa, seakan ingin keluar untuk menyampaikan sendiri pendapatnya kepada bulan malam ini yang sedang malu bersembunyi di balik awan. Sementara aku hanya bisa menahan sambil terus berusaha untuk menjadi hakim atas segala sesuatu yang bertentangan di dalam pertempuran antara logika dan kenyataan. 

Setidaknya hidupku masih menghadap pada sasaran, meskipun aku sendiri tidak yakin apakah sasaran itu dan apakah langit dan bumi merestui aku. Terserahlah, toh atap tempat tidurku bukan hanya kali ini berganti. Jadi biarlah sungai tetap mengalir seperti seharusnya, dan biarlah angin mengerjakan tugasnya.

Manusia Goa dan Gema Berkepanjangan

Apa yang dapat membangunkan manusia dari kebohongan? 

Bahkan mungkin hingga langit runtuh pun, manusia masih tetap bermain dengan kebohongan. Lalu siapa yang bisa dipersalahkan? Aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk selalu menyalahkan. Mungkin berkaca pada cermin kecil akan lebih baik ketimbang melihat bayangan tubuh yang berbaring di tanah ditimpa bermacam bunga. Tapi, bahkan cerminpun telah kehilangan sifat jujurnya. 

Jadi apakah batu yang diam dapat memberikan kejujuran? 

Sungguh mengenaskan nasib tubuh ini, laksana menghendaki suara tapi gema yang terdengar. Sumbang dan jauh dari kenyataan. Walaupun ada yang bilang bahwa kebenaran yang sebenarnya adalah kebohongan yang di-amin-i, setidaknya para manusia goa itu belum terbukti bersalah pada ucapan.

Peraturan.

Setiap hari setelah menuliskan apapun disini, aku berharap catatan ini bisa memberi balasan atau jawaban atau sangkalan atau apapun , setidaknya dia tidak hanya selalu terdiam dan tak acuh terhadap semua harapanku. Sudah teralalu banyak benda yang diam di sakalilingku. Bahkan hari ini aku pun harus lebih banyak berdiam menahan semua rasa ku, hanya karena rasaku ini terbentur dengan kerasnya dinding peraturan. Ya, lagi-lagi peraturan yang menjengelkan, dia seperti tak pernah puas selalu menghalangi langkahku hingga membuat aku malas untuk meneruskan langkah. 

Itu pernah terjadi, tapi akhirnya “si hitam” berhasil menyadarkanku. Dengan sifat tak acuhnya yang seperti biasa, tetapi bersimpati lebih daripada sang pencerah yang setiap hari berdiri di depanku untuk menjadi pohon yang tidak pernah bisa ku rangkul dan peluk. Bisu tapi terus bertutur, buta tapi melihat kesalahanku, tuli tapi mendengar keburukanku. Semoga semua ini cepat berlalu bersama semua tugas yang selesai tidak tepat waktu.