Setiap hari setelah menuliskan apapun disini, aku berharap catatan ini bisa memberi balasan atau jawaban atau sangkalan atau apapun , setidaknya dia tidak hanya selalu terdiam dan tak acuh terhadap semua harapanku. Sudah teralalu banyak benda yang diam di sakalilingku. Bahkan hari ini aku pun harus lebih banyak berdiam menahan semua rasa ku, hanya karena rasaku ini terbentur dengan kerasnya dinding peraturan. Ya, lagi-lagi peraturan yang menjengelkan, dia seperti tak pernah puas selalu menghalangi langkahku hingga membuat aku malas untuk meneruskan langkah.
Itu pernah terjadi, tapi akhirnya “si hitam” berhasil menyadarkanku. Dengan sifat tak acuhnya yang seperti biasa, tetapi bersimpati lebih daripada sang pencerah yang setiap hari berdiri di depanku untuk menjadi pohon yang tidak pernah bisa ku rangkul dan peluk. Bisu tapi terus bertutur, buta tapi melihat kesalahanku, tuli tapi mendengar keburukanku. Semoga semua ini cepat berlalu bersama semua tugas yang selesai tidak tepat waktu.
Itu pernah terjadi, tapi akhirnya “si hitam” berhasil menyadarkanku. Dengan sifat tak acuhnya yang seperti biasa, tetapi bersimpati lebih daripada sang pencerah yang setiap hari berdiri di depanku untuk menjadi pohon yang tidak pernah bisa ku rangkul dan peluk. Bisu tapi terus bertutur, buta tapi melihat kesalahanku, tuli tapi mendengar keburukanku. Semoga semua ini cepat berlalu bersama semua tugas yang selesai tidak tepat waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar