Selasa, 10 Juni 2014

1+1=2 dst…

1+1=2 dst… 

Mungkin aku akan menjadi kafir jika aku berkata, “betapa jahatnya Tuhan karena telah memberiku kemampuan untuk berpikir,” karena itu yang aku rasakan hari ini. itulah hasil renungananku semalam.

Bagaimana itdak, sekarang aku adalah seorang mahasiswa, orang yang telah menjalani jenjang pendidikan yang tidak sebentar. Tentu saja ada keinginan yang ingin aku capai. Tapi masalahnya, ilmu yang kudapat dari bangku sekolahan sampai saat ini tidak atau mungkin belum banyak membantuku dalam pelajaran yang sebenarnya; kehidupan. 

Sebenarnya untuk apa aku menjadi orang yang berpendidikan? Untuk apa orang menghabiskan waktu dan harta benda yang tidak sedikit jumlahnya demi menjadi orang yang berpendidikan? Apakah benar pelajaran di kelas bisa membantu seseorang di dunia nyata? Aku tidak yakin. 

Di kelas, aku diajari agar bisa menjadi seorang pemimpin. Tapi masalahnya bukan hanya aku yang diajari untuk menjadi pemimpin, tapi ribuan bahkan jutaan orang di luar sana juga demikian. Lalu siapa yang akan menjadi bawahan jika semua orang akan menjadi pemimpin? Baik, mungkin ada sanggahan: setidak-tidak nya dengan pendidikan seorang manusia bisa menjadi pemimpin atas dirinya sendiri. Preeettt… tai,... asu! 

Saya sudah banyak melihat orang yang kehilangan dirinya sendiri di dunia nyata. Kalaupun suatu saat saya benar-benar menjadi seorang pemimpin, sebisa mungkin saya akan membuat orang-orang yang menjadi bawahan saya meng-iya kan apa yang saya katakan. 

Lalu, kalau orang-orang itu benar meng-iyakan, apakah orang-orang itu masih bisa disebut pemimpin atas dirinya sendiri. Kalau ada bantahan lagi misalnya, ada orang yang berani melawan saya sebagai atasan,

 “Daripada saya menuruti apa yang kamu perintahkan, lebih baik saya keluar.” 

Saya tidak akan pusing. Sebab masih banyak pemimpin-pemimpin lain yang mau menjadi bawahan saya. Lalu mau jadi apa orang yang memilih tetap menjadi pemimpin dan menolak aturan boss? Yo matio wae!!! Lalu untuk apa gunanya pendidikan tingi-tingi? Jancok-jancok!!! 

Berpikir lebih dalam, bagaimana dengan orang-orang yang mengharapkan hasil dari proses kita belajar di kelas? Bagaimana dengan orang tua kita berusaha keras menyekolahkan kita? Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang porsi makannya berkurang karena uang yang akan digunakan untuk membeli nasi malah digunakan untuk membayar uang sekolah? 

Kapok, mulakno ojo gelem dadi wong mlarat. 

Lalu aku berpikir: Bagaimanapun aku harus berguna untuk mereka. Bagaimanapun caranya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar