Termenung diam di satu titik kehidupan, terombang-ambing di tengah badai perasaan yang tak mengenal belas kasihan. Mencoba terus berjalan dalam kepincangan dan mencoba tetap bersuara lantang dalam kebisuan.
Disini, di tengah orang-orang yang pandai berdiskusi, aku belajar untuk menahan diri, menjadikan sebuah kata lebih berarti. Mereka bilang ini untuk diriku sendiri, sepertinya benar, karna ssemua yang ku rasakan sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih baik. Mungkin mulai sekarang aku akan meninggalkan sebuah tradisi.
Hmm...seperti anak hilang yang menemukan jalan pulang aku mulai berlari, aku mulai bisa melihat kebaikan dari sesuatu yang aku kerjakan dan tidak selalu berujung pada kebimbangan. Aku berterima kasih padamu TUHAN. Seperti layaknya manusia lainnya, aku juga mengingin kan kedamaian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar