Berfikir lagi tentang kekafiran-kekafiran yang sudah dan akan ku lakukan.
Beranjak dari satu dahan kenistaan menuju pada pahitnya buah kegelapan hati, yang selalu terselimuti oleh lemahnya kepercayaan yang dapat dengan mudahnya hilang di telan angin malam yang berhembus bersama bayang-bayang hitam kasih sayang kupu-kupu malam.
Mungkin jika tuhan masih mau memberiku pengampunan, akan banyak sekali penentangan oleh tangan-tangan dan mulut, dan kaki, dan fikiran korban dari derita kafirnya fikiran.
Apakah ini juga dialami oleh mereka yang selalu terlihat duduk tenang dengan senyum manis dan di sertai dengan otak kriminal?
Ataukah ini hanya di khususkan untuk orang yang bertanya pada apapun yang di anggapnya memiliki jawaban?
Entah mengapa rembulan malam ini terasa sangat jauh dari genggaman , bahkan untuk sekedar menyapanya aku harus berteriak dengan lantang, dan rembulan masih tetap terdiam. Seperti sedang berunding dengan para bintang untuk membawaku ke atas agar bisa mereka jatuhkan.
Bahkan penghinaan ini beralasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar